Jumat, 06 Juni 2008

Demokrasi lipstick di Kampus Bibir

Saya kuatir kalau-kalau perguruan/sekolah nanti tak biasa menolak provokasi dan kalau-kalau dasar didikan sama sekali ditunjuk kepada propaganda dan agitasi politik semata, maka perlu diadakan semacam keterampilan (Tan Malaka, Dari Penjara Kepenjara).
Sebab tujuan pendidikan bukan hanya sekedar mencari pekerjaan namun merintis pengalaman meskipun pada akhir buruannya kerja dan ijazah bukanlah jaminan efficiency melainkan suatu kemungkinan buat kesanggupan. Seperti ciloteh salah seorang dosen saya, “jika bisa sabar gelar doctor atau profesor pasti ditangan”. Mungkin kita sudah sama maklum bila di negara kita yang kaya-raya tapi melarat ini mencari pekerjaan seperti ayam dikasih makan dan itupun tak pandang bulu. Jika bapaknya hakim, anak biasa jadi hakim, jika mertua dosen menantunya pasti diterima jadi dosen. Perkara mampu atau tidak itu nomor sekian dan itu semua perkara kesempatan.
Untuk memperkuat pengalaman dibelakang hari, pengalaman atau keterampilan yang dimaksud bukanlah sebuah perkerjaan yang tersambil, tapi sebuah harapan bagaimana sebuah kampus biasa menghasilkan jebolan yang beridiologi suci, beriman baja, mandiri dan bermasyarakat. Kehadiran lembaga yang terstruktur seperti BEM jurusan, BEM fakultas, BEM Institut/Universitas dan Unit Kegitan Mahasiswa (UKM) yang beranekaragam Olahraga, KSR-PMI, Teater, Pers mahasiswa dan lain-lain sebagai dunia pembelajaran bagi mahasiswa yang haus kreatifitas yang memberi sumbangsi besar bagi kampus itu sendiri, namun bergabung dengan lembaga mahasiswa apapun berarti harus bersedia makan hati. Kadang jadi lampiasan sebahagian dosen, kadang pada waktu-waktu tertentu harus memilih antara kuliah dan UKM.
Ada juga sebahagian kawan yang berurusan dengan kuliah hingga semester haram (7 th). Kadang terpaksa DO dan sebagian bisa menyelesaikan studi dalam waktu yang lebih baik, tapi itu semua pilihan sebenarnya, sebab jika menginginkan sesuatu harus berani kehilangan sesuatu
Pengembangan kegiatan mahasiswa di kampus menjadi pembicaraan yang hangat pada tiap-tiap kampus tak ketinggalan pula IAIN Imam Bonjol Padang yang berkiblat ke ka’bah ini. Ibarat api dalam sekam, mungkin itu kalimat yang pantas buat mengenang nasib UKM di kampus yang malang ini. Sudah bertahun-tahun berbuat tapi tetap saja digusur kian-kemari. Entah apa yang terjadi di kampus ini, tiap kali ganti pimpinan, UKM selalu menjadi tumbal dan penempatan peran yang terkesan memanfaatkan yang akhirnya membeda-bedakan status mahasiswa, seperti UKM Menwa dan Satpam yang ditugaskan menstop mahasiswa yang berboncengan masuk kampus. Kenapa harus dilarang. Bukankah mahasiswa sudah dewasa dan paham benar tentang ini? meskipun berboncengan itu tidak Islami maka pihak keamanan kampus/satpam yang seharusnya punya gawe. Kelihatannya ada status/derajat plus terhadap UKM tersebut padahal sama-sama mahasiswa dan takutnya nanti akan bermuncul kelompok yang merasa lebih sempurna.
Kita juga harus belajar kepada musabab tuntutan pembubaran UKM Menwa di Universitas Bung Hatta oleh mahasiswa. Penguasaan masjid kampus oleh salah satu UKM yang merusak kenyamanan beribadah padahal UNAND sudah lebih dahulu memberi contoh dengan menetralkan masjid pertanda milik bersama serta misteri pemindahan UKM dari gedung di belakang Fakultas Dakwah (yang kini lokal kuliah Fakultas Dakwa dan Fakultas Ilmu Budaya-ADAB) pada masa pemerintahan Prof. Maidir Harun dan PR III ketika itu Dr, Asasriwarni,M,Ag ke gedung Student Center (SC) pada Tahun 2003 yang dijanjikan fasilitas VIP. Mungkin kronologisnya tak perlu diuraikan lagi serta pemindahan UKM ke “penjara mini” di gedung Serba Guna dan Auditorium yang dikotak-kotak bak kandang burung Merpati yang bila hujan datang harus gulung tikar dan mandi hujan sekaligus bikin kolam ikan. SC pada akhirnya selesai disulap jadi lokal kuliah pada awal semester genap April 2008. Fakaultas Tarbiyah menduduki SC secara diam-diam sementara kesepakatan yang dibuat di meja sidang putus ditengah jalan.
Pada jumpa Pers UKM dengan PR II dan PR III yang diadakan Suara Kampus pada April 2008 alhasil PR II, Dr.Bukhari tampa beban mengaku tidak tau sama sekali tentang perjanjian UKM dengan pimpinan IAIN. Gedung SC Milik Fakultas Tarbiyah dan UKM diharap bersabar karena bila dana ada akan dibangun SC yang permanent disebelah kantor dekanat Ushuluddin ujar Salmadanis. Dalam jumpa pers tersebut juga dibicarakan tentang perencanaan pemindahan UKM ke gedung bekas kantor rector/LDQ kecuali UKM Musik dan UKM Teater yang masih difikirkan tempat yang layak untuk keduanya. Keterbengkalaian UKM dan lembaga mahasiswa lainnya adalah dampak dari tidak terpimpin pimpinan kita. Andai saja kebijakan di kampus ini berimbang mungkin kampus ini tak akan penuh dengan teka-teki.
Barangkali komplik-komplik yang muncul di kampus ini serupa bingung yang tak berlabuh. Jasa almamater yang tidak dihargai, permasalahan birokrasi yang lamban serta tidak profesional, sistem belajar jauh dari kebutuhan, satu kali pertemuan (kuliah) tampil tiga pemakalah sekaligus, mahasiswa sibuk diluar karna tak betah dalam kelas, dosen sibuk politik sampai lupa tugas. Masjid tak punya WC, UKM tak punya WC malu kita pada kawan dari kampus lain yang sengaja bertamu, di fakultas terjadi antrian panjang di WC kayak mengantri minyak tanah kecuali WC dosen dan pimpinan. Penyerahan KHS harus menunggu semester depan sementara nilai yang keluar nyicil kayak angsuran bank dan pembangunan yang diluar logika adalah catatan panjang dan dosa warisan bagi penghuni kampus ini. Permasalahan apa upaya para pimpinan IAIN kedepan tak perlu pula kita mengguruinya akan tetapi bagaimanapun juga logika tanpa logistic sama dengan anarkis. Kiranya perkelahian sesama kerbau akan menimbulkan dampak yang tidak bagus bagi rumput dan ketidak berdayaan rumput adalah momen tepat bagi para kerbau untuk berkecamuk-amuk dalam memperebutkan kekuasaan. Kiranya kepada para rumput sesekali berteriaklah sebab berteriak itu tidak salah dan tak akan mengurangi nilai kerumputan yang ada.

Firdaus Diezo, S.Hi

2 komentar:

Dejavu mengatakan...

stiap kampus memang harus memiliki pakar2 dalam berdiplomasi dan mengelabui mahasiswanya...dari dulu sampai skrg tidak akan berubah...seandainya pemikiran2 yg disampaikan LPM SK ini bisa disuarakan oleh semua mahasiswa maka politik2 seperti itu tidak akan berkutik lagi. IAIN merupakan institusi yang memiliki mahasiswa2 yang kritis, tapi kenapa disaat di hadapkan dengan penguasa kampus kita tidak berkutik, sudah saatnya gerakan mahasiswa dikelola dengan rapi dan memperjuangkan hal2 yang benar2 menjadi kebutuhan mendasar bagi mahasiswa dan lembaga lainnya...

edrizal mengatakan...

boleh gabung di e-Suara Kampus g'. klo boleh gmana caranya. saya juga blogger, http://edrizal.blogspot.com atau http://edrizal.wordpress.com